|
Dangdut Mania, 7 Mei 2008, TPI
Jarum jam sudah menunjukkan angka 10 dan 4 atau sudah jam 22.20 WIB., tetapi mataku tidak juga bisa terpejam. Padahal lumayan penat karena jam 21an tadi aku baru datang dari Surabaya. Anak-anak sudah pada tidur saat kudatang. Suami juga baru saja tidur. Dalam sepi sebenarnya aku penign merenung, namun pikiran ini juga ingin santai. Jadi, apa lagi bila tidak membuka layer kaca. "teman" yang selalu siap sedia.
Buka [i]chanel[/i] ini itu, Metro TV tetap saja tidak jelas tertangkap, ketemu film Just Merried di Global, film heroik di TRANS, Empat Mata di Trans 7, sinetron apa gitu di RCTI dan SCTV, Ruben Onsu di Indosiar, Dangdut di TVRI, AnTV ada film bagus tetapi sepertinya hampir habis. Akhirnya aku tetapkan memilih Global TV. Filmnya tidak begitu membuatku antusias, tapi malam ini kuanggap paling lumayanlah dari tayangan yang lainnya.
Jeda iklan menstimuli tangan meraih remote, surfing channel lagi berharap TRANS atau AnTV memberi alternatif baru. Ternyata tidak juga menarik dipilih. Tidak sengaja terpencet channel TPI, acara Dangdut Mania. Melihat hostnya yang laki-laki- Ramsi, maaf aku langsung tidak minat. Lalu nampak host perempuannya, Anya Dwinov yang selama ini menurutku dia adalah salah satu seleb yang cukup cerdas. Tetapi, bukan itu yang membuatku menghentikan tangan untuk sejenak menyimak tayangan Dangdut Mania.
Ada yang menyentak hati ini. Keinginan mengantuk menjadi sirna. Tiba-tiba diri ini agak emosi. Betapa tidak, pemain-pemain dewasa di acara ini nampak naif. Para host menggunakan kostum seragam sekolah!. Host laki-laki seragam SMU putih abu, sedangkan Anya Dwinov menggunakan kostum seragam SMP putih biru dengan dasi dan rambut dikuncir dua berpita putih. Tidak cukup sampai disitu, para komentator atau juri yang berjumlah 3 orang juga memakai kostum seragam SMU. Lebih mengagetkan lagi[/u], si juri perempuan (yang gendut) tidak mau kalah dengan kontestan waria yang bertato – menggulung lengan baju seragamnya dan nampak dilengan kiri sebuah tato dengan gambar dan tulisan "tomat". Luar biasa lagi, semua juga mengenakan badge OSIS di saku baju.
Sebenarnya apa konsep dan maunya menggunakan seragam sekolah dalam acara ini??. Bisakah ini masuk katagori pelecehan pendidikan?. Bagaimana pak menteri pendidikan?, tidakkah bapak merasa terusik?. Meskipun sebagian dari kita tidak menyukai seragam, namun putih abu, putih biru, dan badge OSIS adalah salah satu identitas pendidikan nasional. Bukan mau meremehkan selera acara ini, namun menurutku tidak sepantasnya kostum seragam sekolah digunakan para seleb dewasa untuk tayangan hiburan seperti ini. Apalagi tanpa ada kepekaan akan pendidikan (sense of edu) dengan celometan-gurauan, topik pembicaraan, dan sikap-gaya mereka.
Sejenak aku lebih lama memirsa tayangan Dangdut Mania ini sekedar mencari sisi lain yang mungkin lebih buruk atau lebih baik. Ternyata tidak ada lagi selain perasaan prihatin dengan konsep kostum di episode ini. Pikiran yang sudah under estimate ini membangun kesan bahwa tayangan Dangdut Mania di TPI semakin membuktikan rendahnya kepedulian dan kepekaan akan tanggung jawab moral-sosial industri hiburan (media televisi) melalui ketauladanan sikap maupun perilaku pada generasi muda.
Sayang sekali, kegelisahan tidak bisa segera memejamkan mata pada malam hari ini, Rabu 7 Mei 2008, harus kuakhiri dengan rasa kecewa dan marah.
Acara Gong Show sebenarnya lumayan menghibur dan juga positif karena menstimuli aksi-aksi dan ide-ide kreatif masyarakat. Namun tayangan 3 Mei 2008 membuat saya agak kecewa. Yaitu ketika menghadirkan Mr. Magic yang berperan sebagai tukang sulap. Adegan dimulai dengan shot segelas susu segar di meja. Kemudian Mr Magic datang dan mengambil selembar Koran. Koran kemudian dibentuk contong (cup) , dan air susu dalam gelas kemudian dituang ke contong Koran hingga tersisa setengah gelas. Tiba-tiba Mr. Magicpura-pura bersin sehingga contong Koran ambyar dan Koran terbuka. Namun, magic-nyatidak ada setetespun air susu yang tumpah. Koran tetap kering.
Mr. Magicberujar, ”kemana susunya….?”. sambil pelan-pelan membuka Koran lebih jauh, Mr. Magic berujar lagi,”..susunya telah kembali ke asalnya”, sambil membuka halaman Koran yang menampilkan foto model perempuan dengan dada terbuka. (bagian dada cepat disensor denganntanda silang di layar TV).
Jelas tontonan ini masuk katagori dengan sengaja menayangkan unsur yang sangat sensistif, yaitu pornografi dan pelecehan pada perfempuan. Jelas Mr. Magic dengan sengaja mengasosiasikan susu dengan payudara yang dipertontonkan di ranah publik. Aksi Mr. Magic jelas menunjukkan ketidak pekaan bahkan ketidak pedulian pada isu sensitif masyarakat. Saya menuntut Mr. Magic, produser Gong Show, dan TRANS TVmeminta maaf pada publik atas keteledoran ini.
| Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Tokoh utama film ini adalah [b]Dunn[/b] yang merupakan ahli tembak dari tentara marinir AL AS. Lima tahun lalu dia ditugaskan ke Irak untuk menembak seseorang yang diduga kuat sebagai kurir. Namun begitu objek tembak muncul, ternyata hanyalah seorang bocah berusia tidak lebih dari 10 th. Dunn menolak menembak bocah tersebut sehingga atasannya marah dan mencabut senjata dan diarahkan pada Dunn. Dunn membela diri, mereka bergumul dan pistol sang atasan meletus di dadanya sendiri. Dunn dituduh membunuh atasan dan dikenai hukuman mati.
Saat di penjara, Dunn direkrut menjadi anggota rahasia yang memiliki proyek besar yang disebut dengan "Operasi Kemarahan" Di pimpin oleh komandan Casey. Disampaikan pada Dunn sasaran yang harus dibunuh adalah seorang industriawan ---Bikart--- yang sejatinya banyak melakukan pelanggaran hokum[/u]. Waktu tembak adalah saat sang indrustiawan membuka Bikart Wings di sebuah rumah sakit bersama ibu Negara.
Saatnya menembak objek pun tiba. Dunn sudah mengarah senapan tepat pada Brikart. Namun sebelum Dunn menembak, ibu Negara tiba-tiba tertembak. Suasanapun gaduh. Dunn melarikan diri dengan meninggalkan senapan. Seorang dokter sempat merekam orang di atap gedung yang diduga menembak dan itu bukan Dunn.
Bla..bla..intinya Dunn telah dijebak dan dituduh membunuh ibu Negara. Padahal sesungguhnya proyek "Operasi Kemarahan" hanyalah kedok untuk menghabisi ibu Negara oleh suatu konspirasi. Dunn kecewa dan marah. Dia melakukan penyelidikan sendiri di bawah bayang-bayang AS yang sedang memburunya sebagai pembunuh ibu Negara. Penyelidikan Dunn membuktikan [u]ada benang merah latar belakang ibu Negara sebagai mantan pengacara ACLU yang pernah menangani tuntutan pasukan Flemming kepada AD AS karena telah diberi vaksin yang justeru membuat mereka memiliki penyakit aneh. Sekarang proyek yang sedang menjadi andalan ibu Negara adalah [u]memperjuangkan hak para veteran[/u] terutama yang sedang dirawat di [b]Brikart Wings[/b]. Sikap politik ibu Negara menjadi ancaman bagi [b]industriawan Bikart]/b]. Dia pemilik industri farmasi yang memproduksi vaksin tersebut. Ternyata vaksin telah tercemar. Kini [b]Brikart[/b] menyuap seorang jenderal untuk membunuh ibu Negara, yaitu jenderal [b]Woodward alias Casey[/b]!. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Saya tidak ingin mengulas lebih jauh tentang jalan cerita film dan tidak mengulas pula dari sisi cinematrografi. Saya hanya ingin mengulas, bagaimana pandainya AS membuat film-film untuk meningkatkan citra diri Negaranya sendiri.
Most Wanted berlatar belakang belakang perang Vietnam, Irak dan Hiroshima. Dunia tahu bahwa bangsa AS sangat malu dengan kekalahannya dalam perang Vietnam dan juga kebijakan presiden atas Irak. Fakta dalam negeri sendiri kebanyakan warga AS menyalahkan pemerintah dan memandang hina para tentara yang ditugaskan dalam perang Vietnam. Disisi lain banyak warga Negara yang harus terlibat sebagai tentara dalam wajib militer yang diberlakukan pada setiap keluarga. Artinya, rasa kecewa masyarakat AS pada tentara AS sama saja dengan rasa kecewa mereka pada profesionalisme anak-anak mereka sendiri yang terpilih dalam wajib militer. Warga Amerika sangat malu dengan perang yang menyebabkan warga sipil Hiroshima-Nagasaki menderita. Disisi lain sebenarnya Warga Amerika juga mempertanyakan kebijakan wajib militer dan pengiriman para pemuda ke medan perang.
Sisi kemanusiaan Bangsa AS diperguncingkan dunia.
Maka propyek besar bangsa AS selanjutnya adalah menutupi semua rasa malu itu. Bagaimana caranya?. Mereka memproduksi film-film seperti Most Wanted ini. Apa pesan utama dari film AS yang bertemakan perang ini?. Kekalahan perang AS bukan kesalahan Negara dan bukan pula kesalahan bangsa AS, melainkan kesalahan oknum-oknum tentara yang berkhianat seperti Jenderal Woodward.
Menghakimi tentara-tentara yang berkhianat ini, dikonstruksilah seorang pahlawan seperti Mr. Dunn seorang veteran yang manusiawi, bersih, tidak bisa dibeli, patriotik, dan serba bisa. Semua sifat dan perilaku baik itu dia dapatkan dari pelatihan militer!. Mr Dunn dikonstruksi sebagai simbol ataupun ikon bangsa AS.
Luar biasa bangsa AS yang sangat kompak membersihkan rasa malu nasionalnya.
Film ini juga mencoba mengambing hitamkan industriawan yang hanya mengandalkan uang untuk mempengaruhi mental para tentara yang berkhianat. Artinya juga [u] melempar batu[/u] bahwa kesalahan militer dikarenakan kesalahan industriawan (melalui kesalahan vaksin pembunuh biologis yang diuji cobakan pada tentara). Penggambaran ini merupakan sisi lain dari KEMUNAFIKAN AS. [i]Duh…jadi emosi nih[i]. Dimana dalam realitas, industriawan yaitu para kapitalis justeru menjadi sebuah idelologi yang sangat dilindungi oleh AS dan yang selama ini sangat memberi konstribusi pada kemajuan AS.
That is AS. Film merupakan sebuah media [i]mind construction[/i] yang sangat halus. Namun dengan banyaknya produksi film-film sejenis dan suka citanya industri televisi dan hiburan Indonesia menyebarkan film-film [b]AS[/b] memasuki alam pikiran masyarakat, lambat laun [i]mind construction[/i] ini [u]akan menjadi permanent[/u] di otak masyarakat kita. Yang diingat oleh masyarakat adalah [i]AS is hero[/i].
Bersoraklah AS, kecuali masyarakat disadarkan tentang kekuatan media akan tergantung pada siapa yang mengendalikannya.
Kita tentu ingat bagaimana pemerintah Orde Baru juga mencoba memanfaatkan film G 30 S/PKI dan Serangan Fajar untuk mengkonstruksi siapa yang layak disebut Pahlawan setelah kemerdekaan Indonesia.
Wallahu’alam bissawab…..
| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Dan Brown |
The Davinci Code karya Dan Brown merupakan novel [i]best seller[/i] dan menimbulkan kontroversi yang luar biasa. Betapa tidak, penuh dengan bukti-bukti yang sangat logis, Dan Brown dengan berani menelanjangi sebuah keyakinan atau dogma tentang kehidupan Isa Almasih putera Maryam. Tidak hanya itu, melalui novel ini Brown juga membuka rahasia-rahasia gereja di bawah keuskupan Roma yang selama ini tidak berani dibicarakan secara terbuka.
Di Kota Malang sendiri, waktu itu saya sempat mengikuti bedah buku Dan Brown ini. Para pembedahnya dari kalangan gereja, ulama, dan akademisi. Wah, seru. Seolah mereka sedang membicarakan sebuah fakta realitas, padahal pemantiknya adalah realitas dari sebuah novel....The Davinci Code.
Saya sendiri sudah membacanya, lebih dari satu kali. Bukan apa-apa, karena saat membaca saya malah sibuk mencoba menghapalkan istilah-istilah yang ada di novel tersebut. Khususnya tentang dunia simbol dan tanda. Memahami apa makna tersembunyi dari sebuah tanda dan simbol, sungguh enak apabila mengikuti petualangan Robert Langdon, tokoh utama dalam novel The Davinci Code ini. Lebih seru lagi saat muncul princess Sophi (yang diarahkan oleh Brown sebagai [u]keturunan Maria Magdalena). Misteri Sophi, selain dia adalah seorang penyelidik negara, ahli simbol dan tanda, khususnya anagram, ternyata merupakan cucu Ketua (pendeta)Sion (sebuah sekte yang kontroversial karena bisa menggoyang keyakinan agama yang saat itu sedang berkuasa).
Melalui kisah hidup masa kecil Sophi, bagaimana sang kakek mengajarinya untuk senantiasa peka dengan makna-makna tersembunyi dari setiap tanda dan simbol, sampai pada perjalanan penuh rintangan dan kejutan Sophi dan Robert Langdon sang ilmuwan tanda, saya merasa menjadi lebih paham tentang semiotik (ilmu tentang tanda) dengan cara yang sangat populer namun begitu mendalam.
Seperti judulnya, novel ini sangat dalam mengeksplorasi makna tersembunyi dari karya-karya Leonardo Davinci, terutama karya-karyanya yang diduga mengungkap kebenaran kehidupan Isa Almasih dan Maria Magdalena. Mislanya, tentang [b]Cawan[/b] yang dipegang oleh seseorang yang duduk disebelah Isa dalam lukisan perjamuan terakhir, dimaknai tidak sekedar cawan anggur. Bahkan seseorang yang hadir dalam lukisan perjamuan terakhirpun sangat multi tafsir melalui tanda-tanda yang ada.
Pendeknya, novel Brown ini ingin mengatakan bahwa lukisan-lukisan Leonardo Davinci, merupakan tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Davinci untuk menyampaikan sebuah kebenaran tentang Isa Almasih dan Maria Magdalena.
Dalam kajian semiotik, tanda memang bisa dimaknai semena-mena. Namun karena sifatnya itu pula, kita juga boleh memiliki penafsiran yang berbeda.  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Awal memirsa tayangan [b]Suami-Suami Takut Istri[/b], jujur saja [u]saya sangat terhibur[/u]. Apalagi jam tayangnya pas banget dengan waktu istirahat setelah penat bekerja. Klob sudah antara kebutuhan dan tersedianya produk. [b]Namun,[/b] setelah saya melakukan kontrak hal yang boleh dan tidak boleh ditonton dengan anak kedua saya, [b]Suami-suami Takut Istri[/b] [u]termasuk salah satu daftar yang saya coret untuk ditonton.[/u]
Apa alasannya?.
[i]Pertama[/i], [u]jam tayang[/u] yang kuanggap klob dengan kebutuhan ternyata menjadi [u]tidak klob karena menabrak jam sholat magrib[/u].
[i]Kedua[/i], saya tidak bisa menghindarkan anak-anak ikut memirsa tayangan ini karena saat saya pulang kerja, mereka pada menempel dimanapun saya berada (kangen begitu loh). Sehingga [u]anak-anak jadi ikut menyaksikan beberapa nilai-nilai yang kurang sesuai[/u] memasuki alam pikiran dan persepsi mereka dari tayangan [b]Suami-suami Takut Isteri.[/b] Beberapa nilai yang menurut saya tidak sesuai untuk anak-anak adalah:
1. [u]Reaksi para lelaki (suami-suami) yang berlebihan[/u] pada kehadiran mbak Pretty yang juga selalu tampil sexy dan bersuara mendesah. Seringkali kalimat-kalimat mereka dan juga akting mereka mengasosiasi [u]ke eksotisme, porno, dan aktivitas sexual.[/u] Bahkan kadang bukan lagi asosiasi, melainkan langsung pada ungkapan-ungkapan sexual.
2. [u]Perilaku isteri-isteri yang juga berlebihan[/u] dalam merepresi posisi para suami. [u]Berkata kasar, berperilaku kurang ajar dan menyepelekan[/u] sering ditayangkan dalam setiap episode.
3. [u]Perilaku anak-anak[/u] mang Dadang dan anak pasangan mas Karyo yang [u]kurang terpuji.[/u] Terlalu menuntut pada orang tua (terutama anak mas Karyo), kecil-kecil sudah ngobyek, licik, dan belajar menipu.
4. Dan ini yang paling tidak kusangka: Ternyata [b]Suami-suami Takut Isteri[/b] [u]membawa pesan tersembunyi[/u] yang bisa menimbulkan [b]prasangka etnis yang salah.[/b] diantaranya: ___________________________________________________________ Melalui tokoh pasangan Bang Faisal digambarkan [b]orang Padang yang sangat pelit dan materialistis[/b]. ___________________________________________________________ Melalui tokoh bang Tigor digambarkan [b]orang Batak sebagai orang yang bodoh dan hanya mengandalkan otot daripada otak[/b]. ___________________________________________________________ [b]Orang Jawa[/b] melalui Welas digambarkan sebagai orang yang [b]o[.]on dan lugu walau baik hati.[/b] ___________________________________________________________ Mang Dadang adalah [b]orang Sunda yang suka kawin, malas dan suka minta bantuan.[/b] ___________________________________________________________ Sheila dan Mas Karyo adalah tipe [b]orang metropolis yang hanya mikir sex dan ketenaran[/b] (shooting tentang keluarga mas Karyo paling sering di kamar tidur!). ___________________________________________________________ Keluarga Pak RT adalah penggambaran [b]keluarga betawi yang mau menang sendiri, maunya jadi pemimpin,tetapi tidak begitu pandai juga.[/b] ___________________________________________________________ Tokoh Pretty menggambarkan [b]janda yang tidak jengah mengumbar sex appealnya[/b] ___________________________________________________________
Awalnya saya tidak begitu memperhatikan hal-hal tersebut, tetapi suatu ketika [b]anak saya yang nomor dua menemukan pesan tersembunyi tersebut pada sosok [.]ambo[.]/Padang[/b] (keluarga bang Faisal). Wah, saya langsung terperangah. Sinetron ini [u]bisa menyebarkan prasangka etnis yang kontraproduktif[/u] bagi aktivitas [u]komunikasi lintas budaya[/u] pada anak-anak kita.
Sejak itu...saya berusaha keras menghindari tayangan ini kami pirsa dengan anak-anak. Mestinya bisa ditayangkan pada tengah malam saja.   | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Saya mulai merasa gak asyik memirsa tayangan EXTRAVAGANZA yang ditayangkan TRANS TV tiap hari sabtu malam dan senin malam. Bila mbak Nizma lebih menyoroti jalan cerita atau tema yang garing...saya lebih menyoroti akting para pemainnya.
Mula-mula saya ingin mengomentari para pemain utama atau yang senior. Yaitu [b]Tora Sudiro dan Aming[/b]. Saya akui di awal kemunculan [b]EXTRAVAGANZA[/b], dua bintang inilah yang [u]menjadi daya tarik kuat[/u]. Reputasi [b]Tora[/b] sebagai aktor saat itu [u]sedang dia atas daun..eh..di atas angin[/u]. Sementara [b]Aming[/b] tampil dengan [u]dekonsruksi performance seorang aktor yang ideal[/u] (maaf Aming). Namun, saya melihat penampilan dua bintang tersebut [u]akhir-akhir ini nampak semakin menjijikan.[/u] [b]EXTRAVAGANZA[/b] seolah sadar betul bahwa [u]sexualitas merupakan sebuah komoditas.[/u] Maka mereka dengan sengaja telah [u]mengeksploitasi sexualitas[/u] ini melalui akting [b]Tora dan Aming.[/b] [u]Gerakan, dan kata-kata ataupun kalimat kedua tokoh ini sarat dengan ungkapan sexualitas[/u]. Saya sungguh menyayangkan posisi Tora yang sebelumnya memiliki reputasi yang cukup bagus sebagai aktor kelas festifal film. Kalo Aming...mah...
[i]Kedua[/i], penampilan [b]Ronald, Sogi, dan Indra Birowo,[/b] sudah [u]mulai membosankan.[/u] Tidak ada pembaharuan karakter. [b]Ronald[/b] yang sok menggurui, [b]Sogi[/b] yang mencoba lucu tapi gak lucu lagi, dan setali dengan [b]Sogi[/b] adalah penampilan [b]Indra[/b].
[i]Ketiga[/i], menurut saya, kehadiran [b]Luna Maya[/b] sebagai bintang tamu juga [u]bukan pilihan yang menguntungkan[/u] bagi [b]Luna Maya[/b] sendiri. Penampilannya di EXTRAVAGANZA nampak [i]over acting[/i]. Agak berbeda dengan VJ [b]Catty[/b]. Ada peluang bagi [b]Catty[/b] untuk mebonceng popularitas dan menunjukkan kemampuan seni peran di [b]EXTRAVAGANZA[/b].
[i]Keempat[/i], [u]pemain yunior masih lumayan[/u] karena ini penampilan baru mereka. Namun, belajar dari paradoks para seniornya..semoga pendatang-pendatang baru ini [u]tidak mengalami ironi yang sama dengan para senior[/u].
[i]Kelima[/i], kalo [u]harus menilai bagus pada tayangan ini[/u], saya melihat adanya [u]kestabilan pada kekuatan karakter[/u] [b]Tike dan Roni[/b]. Dua tokoh subur ini cukup stabil menyuguhkan karakter dan akting yang tidak membosankan dan menghibur.
[i]Terakhir[/i], selama ini sadarkan kita bahwa [b]EXTRAVAGANZA[/b] sebenarnya telah [u]melecehkan lembaga sekolah?[/u]. Lewat penokohan siswa-siswi SD yang menggunakan seragam sekolah, mereka [u]mengkonstruksi kelaziman siswa yang nakal dan kurang ajar pada guru maupun pada teman[/u]. Mereka juga mengkonstruksi [u]sosok Guru yang tidak profesional[/u].
Jadi, menurutku sebaiknya tayangan ini dibubarkan saja karena sudah tidak ada manfaat positif yang bisa dipetik oleh masyarakat.
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | DR. Florence |
Maverick, buku karya DR. Florence benar-benar buku yang mengusikku beberapa bulan yang lalu. Sebagai doktor ahli terapi wicara-komunikasi dari sisi medis, DR. Florence adalah profesional dan seorang ibu yang luar biasa. Kegigihannya mengeluarkan Whyte –anak kandungnya yang menyandang autistik—dari dunia sunyi dan usaha kerasnya melibatkan kedua kakak Whyte dalam proyek ilmiah yang menjunjung nilai kemanusiaan, patut menjadi tauladan orang tua dimanapun.
Lalu lintas kepribadiannya sebagai seorang ilmuwan dan seorang ibu yang single parent (karena perceraian) menimbulkan banyak konflik diri, sekaligus pemicu kegigihannya untuk membuktikan bahwa Autisme pada diri Whyte bisa disembuhkan dengan ilmu yang dia geluti selama 17 tahun. . Keterbatasan bahasa verbal yang amat sangat dalam diri Whyte secara konsisten dan terus menerus diperbaharui dengan memaksimalkan kemampuan visual dan paralinguistik yang ditemukan dalam diri anaknya tersebut. Naluri seorang ibu dan rasionalisasi keilmuannya merupakan perpaduan yang potensial untuk membantu Whyte menjalani kehidupan ‘normal.
Betapa saya terpana dan ikut berdebar-debar mengikuti pengalaman DR. Florence yang dituangkan dalam bahasa buku yang sangat enak dibaca. Separo buku dengan tebal 200 halaman menceritakan kekalutan, ketakutan, dan rasa kecewanya pada lingkungan yang kurang mendukung prediksi optimismenya. Kekacauan kognitif, emosi, dan sosial Whyte membuatnya dipandang orang-orang di Mall, dan tempat-tempat umum sebagai orang tua yang tidak bisa mengasuh anak dengan baik. Diagnosisnya akan kemampuan visual Whyte dimentahkan oleh lembaga-lembaga prasekolah yang lebih memilih ukuran-ukuran kemampuan verbal untuk menentukan kecerdasan dan kesiapan anak prasekolah. Lambatnya kemajuan Whyte dalam berbahasa dan bersosial mendatangkan ancaman negara untuk memasukkan Whyte dalam dunia yang lebih sunyi di pusat perawatan anak-anak cacat.
Bila ada orang yang mendukungnya penuh atas usaha keras DR. Florence mengeluarkan Whyte dari dunia sunyi adalah kedua anaknya yang lain, kakak-kakak Whyte yang hanya selisih usia 3 dan 2 tahun dari Whyte, yaitu William dan Vanessa. Dua anak DR. Florence yang harus berbagi perhatian di usia yang sangat dini. Willian dan Vanessa dengan penuh cinta rela menjadi ’terapist’ yang paling empati kepada Whyte. Bahkan pada saat-saat tertentu, mungkin melebihi ibu mereka. Bagaimana DR. Florence memroses anak-anaknya sejak balita terlibat dalam proyek besar mengeluarkan Whyte dari dunia sunyi, dituturkan secara profesional dan tidak cengeng dalam buku ini. Seolah William dan Vanessa telah dengan sengaja dicetak sebagai ilmuwan sejak mereka bisa berinteraksi dengan orang lain. Mata saya berkaca-kaca, bukan karena kasihan melihat Vanessa dan William harus berkorban, tetapi karena saya merasakan sesuatu yang luar biasa apabila seorang ibu memiliki ilmu pengetahuan dalam mengasuh anak-anaknya.
Tetapi membaca buku pengalaman DR. Florence menimbulkan kecemburuan yang luar biasa pada diri saya. Saya cemburu, betapa penanganan tumbuh kembang anak di negara maju sedemikian rupa, sangat profesional dalam melibatkan seluruh ilmuwan-ilmuwan pendidikan, medis, psycology, yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang manusia. Mereka penuh ethos kerja dan dedikasi tidak pernah berhenti melakukan riset dan menciptakan metode dengan serangkaian instrument-instrument yang dapat mendorong kecerdasan kognitif, emosi, dan sosial anak-anak. Keterlibatan para ilmuwan tidak sekedar mengandalkan ethos dan dedikasi mereka, namun juga dijamin oleh negara dengan sistem yang baik. Juga dijamin oleh lembaga-lembaga swasta altruistik yang memiliki modal. Mungkinkah anak-anak kita di Indonesia dapat menikmati seperti anak-anak di negara maju, tanpa dibedakan berdasarkan golongan-golongan sosial?.
| Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Menurut saya, film ini syarat dengan nilai-nilai tersembuyi yang bagus. Pertama, pentingnya Konsep Diri terhadap perilaku dan kehidupan. Dalam hal ini adalah Cambridge si tokoh utama. Adegan menunjukkan bahwa setelah Cambridge mendapatkan sepatu dengan initial MJ, dia menjadi percaya diri, karena dia mengkonsep dirinya seperti MJ dan tentu saja bisa sehebat MJ. Akhirnya Cambridge pun berperilaku sehebat MJ dan benar-benar bisa. Terlepas dalam film digambarkan adanya unsur ’kehebatan’ sepatu. Hal itu merupakan simbol saja. Penonton mungkin menganggap itu sebagai adegan yang kurang masuk di akal. Sebenarnya itu adalah sebuah simbolisasi. Konsep Diri yang mempengaruhi perilaku Cambridge, dalam istilah psycology dikenal dengan istilah Self Fulfilling Prophecy.
Nilai kedua dari film ini adalah mengajarkan pada anak-anak (yang direpresentasikan melalui tokoh Cambridge) bahwasannya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan (orang tua asuh), maka kamu perlu memiliki posisi tawar (bargaining position). Posisi tawar ini dalam interaksi sosial di istilahkan oleh sosiologi dengan istilah pertukaran sosial (social exchange). Nampak Cambridge mendapatkan perhatian luar biasa dan pada akhirnya mendapatkan orang tua, justeru karena dia berbakat dan membanggakan banyak orang.
Nilai ketiga yang saya tidak menemukan teorinya adalah pesan moral bahwa adanya anak, bukanlah karena dia memiliki Bapak. Melainkan adanya Bapak karena ada anak yang mengakuimu sebagai Bapaknya. Dalam film digambarkan bahwa Tracy Renold – yang pada akhirnya mengangkat Cambridge sbg anak asuh-- adalah orang yang belum menikah alias belum memiliki isteri. Komentar saya bahwa film ini juga ingin menyebarkan paham single parent. Bagaimana pendapat anda?.
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Wow....sebuah film, apalagi seperti Berbagi Suami yang banyak menerima penghargaan: official Indonesian Entry Foreign Fil Oscar pada 2007; Best Film Nomination dalam tribeca Film Festival New York 2006; Best Film dalam Hawai International Film Festival 2006; Best Film Nomination dalam cairo International Fil festival 2006; Official Selectuon dalam Tokyo International Fil Festival 2006; dan Silver Award dalam Lyon Asian Fil Festival 2006....sungguh layak untuk diapresiasi sepanjang waktu.
Sebenarnya sudah agak lama saya menonton film yang berkisah tentang tiga keluarga dengan masalah suami punya hubungan asmara dengan wanita lebih dari satu. Tiga keluarga dikisahkan dalam cerita yang terpisah-pisah. Baca deh sinopsis teman-teman ttg film ini (misal opini Jutawan. lisyam, Iron-75, bundanada, dst. Dalam www.pintunet.com) ). Opini saya ini bersifat melengkapi ulasan teman-teman karena dari sisi yang berbeda.
Terlepas dari teknis penyutradaraan, acting, penokohan, aktor-aktris, dan unsur-unsur film yang lain, saya lebih memperhatikan isi pesan yang lain dalam film ini. Yaitu:
Pertama, Berbagi suami sengaja menunjukkan perjalanan tiga perempuan berbeda budaya. Jajang C. Noer sebagai dr. Salma isteri seorang pengusaha, jelas mewakili budaya kelas atas, dan muslimah dengan kerudung. Shanti sebagai Siti, yang rela dimadu oleh Lukman seorang sopir crew film dengan dua wanita lain (diperankan Ria Irawan & Dyah Pitaloka, jelas mewakili gadis Jawa dari kalangan bawah atau menengah kebawah, dan Dominique, gadis pegawai kedai mie dan menjadi simpanan bosnya (Tio) yang represif terhadap isteri galak merupakan representasi dari etnis Cina dan remaja yang memiliki ambisi bisnis. Kedua, ketiga budaya -- yang direpresentasikan oleh masalah ketiga perempuan -- ternyata merespon kehidupan bersuami dengan cara yang berbeda. Dr Salma rela berbagi suami demi sebuah martabat status perkawinan, namun dari akting dan bahasa non verbal masih membutuhkan status dia harus menjadi yang tertinggi. Hal ini nampak dari kepuasan ketika sang suami memilih dia yang merawat saat suami stroke, perilaku para isteri muda yang selalu mencium tangan dr.Salma[ saat mereka bertemu/berkumpul. Pesan tersembunyi lainnya adalah interpretasi sebagian orang tentang hukum Islam sendiri yang tidak memasalahkan suami menikah lagi tanpa pemberitahuan lebih dahulu pada isteri pertama. Nampak jelas, Salma agak kaget mengetahui suaminya memiliki tiga isteri lagi selain dirinya. Tetapi tiada kemarahan dalam ekpresi Salma. Bahkan Salma mesti berkata sesuatu yang bertentangan dengan batinnya dalam sebuah TV Talk Show, semua tentu demi sebuah status perkawinan yang perlu dijaga harmonis diluar keluarganya sendiri.
Siti yang merepresentasikan cara berpikir orang biasa dari kalangan bawah jelas menganggap sebuah perkawinan bukanlah lahir dari adanya sebuah cinta. Perkawinan baginya adalah terpenuhinya papan dan pangan (sandang nomor berikutnya). Berumah tangga, artinya adalah hidup berkomunal. Walau pada akhirnya dia merasakan cinta tidak mengenal kasta, Sitipun tidak peduli dirinya termasuk kelompok moral menyimpang saat menjalani hubungan lesbian dengan madunya. Pesan filmnya adalah kalangan bawahpun berhak mendapat rasa nyaman dari sebuah cinta.
Ming yang diperankan oleh Dominic mewakili realitas non Islam yang tentu tidak boleh berpoligami sehingga hubungan cinta perempuan dan suami orang hanyalah hubungan selingkuh dan simpanan (Saya interpretasi ini bukan bermaksud menyinggung SARA). Lagian Ming punya dua cinta dalam hubungannya dengan koh Bun. Cinta asmara dan cinta harta. Sikap Ming merupakan representasi bisnis. Cintapun bisa di ’bisnis’ kan. Nampak juga dari hubungan Ming dengan pacar lama. Siapapun yang bisa menghantarkan ambisi Ming menjadi artis, dialah yang akan diberi cinta {pura-pura) nya.
So, apakah ada dari tiga perempuan dalam film Berbagi Suami yang mewakili kita para perempuan ? he..he...just kiding.

|