Blog EntryBerita Rapat Paripurna Terbatas yang TendensiusMay 11, '08 10:38 PM
for everyone

Tradisi “kelisanan kedua” mengutip istilah Ahmad Khotib, JP 11 Mei 2008, mestinya menjadi perhatian jurnalis dan sumber berita. Saat ini masyarakat telah menjadikan surat kabar, misalnya sebagai sumber (lisan) dalam mengetahui  dan menilai segala peristiwa. Oleh karena itu komitmen jurnalis untuk bekerja secara profesional dan hati-hati perlu didengungkan terus menerus. Begitupula dengan para sumber berita. Tidak jarang berita di surat kabar membuat masyarakat mengetahui dan menilai sebuah peristiwa dengan tidak tepat bahkan tersesat.

 

Pagi ini saya membaca harian Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008. Ada satu berita yang ingin saya jadikan contoh bagaimana sebuah berita bisa menyesatkan pengetahuan masyarakat.

 

 Judul beritanya cukup sensitif: “Desak Bupati Naikkan Dana Dewan

 

Saya sebut sensitif karena mengundang pandangan negatif tentang lembaga DPRD ditengah naiknya BBM/harga-harga yang tentu saja menyulitkan masyarakat secara umum, dan khususnya kalangan berpenghasilan kecil. Judul ini tendensius sebagai “api” untuk membakar kebencian atas sense of crisis para anggota Dewan.

 

Padahal isi berita tersebut sangat sepele, yaitu koreksi anggota komisi B, Basori atas kebiasaan Sekwan dalam menentukan besarnya uang penginapan bagi perjalanan dinas anggota dewan. Akhirnya Basori meminta Bupati untuk melakukan pembinaan kepada staf setwan. Koreksi Basori ini menurut saya tidak penting untuk jadi berita yang harus diketahui masyarakat karena bisa dengan mudah diselesaikan secara internal.

 

Tetapi persoalan yang sepele tersebut menjadi seolah penting manakala wartawan membingkai persoalan ini menjadi persoalan “kepicikan” kalangan Dewan dan kelayakan sebuah SK Bupati. Hal ini nampak dari lead berita,

“Bergantinya Bupati dimanfaatkan kalangan DPRD Nganjuk. Mereka meminta surat keputusan (SK) Bupati yang mengatur standar biaya perjalanan dinas dewan ditinjau karena dianggap menyulitkan dan merugikan”.

 

Kalimat pertama dalam lead berita jelas merupakan opini wartawan. Kalimat kedua ternyata bertentangan dengan tubuh berita yang menyatakan bahwa SK Bupati yang dimaksud telah menetapkan standar biaya perjalanan dinas dewan disamakan dengan standar untuk PNS golongan IV. Alih-alih Jawa Pos menuliskan bahwasannya SK itu tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan RI, tetapi malah menuliskan pada kolom kedua baris ke 22 sbb,

“…pada prakteknya, setwan menyamakan dewan dengan PNS yang lain. Karena itu pula, dalam rapat paripurna Rabu lalu, dewan meminta Sekkab Soemarlan melakukan pembinaan kepada stafnya di setwan”.

 

Nah, tubuh berita menjelaskan bahwa faktanya adalah soal praktek kebiasaan Setwan. Jadi judul dan lead berita sangat tidak sesuai dengan fakta.

 

Berita tersebut juga memberi kesan sumber berita- yaitu Sobari sebagai orang yang tidak konsisten dan tidak memahami sebuah peraturan. Disisi satu menyatakan persoalannya adalah perilaku Setwan, namun disisi lain menyalahkan SK Bupati.

 

Berita JP yang dikemas oleh  dea/jppn/end menurut saya telah melakukan pembelokan fakta sbb:

 

  1. Judul dan lead menggiring kepada opini negatif pada Kalangan dan Lembaga DPRD Nganjuk..
  2. Lead juga menggiring kepada opini ketidaklayakan SK Bupati Nganjuk.
  3. Persoalan sepele digiring menjadi persoalan publik. Persoalannya hanyalah soal perlunya Sekda melakukan pembinaan kepada setwan yang menetapkan angka biaya dinas. 
  4. Tidak ada cover both side dengan meminta penjelasan/keterangan dari Setwan.
  5. Memberi kesan negatif tentang sumber berita.

 

para member konsumen harus hati-hati membaca berita. Begitu pula para sumber berita baik perorangan maupun sebuah lembaga harus hati-hati membuat pernyataan untuk publik dan media. Masih ada wartawan dan atau media yang tidak profesional dan memiliki maksud tersembunyi (hidden agenda) melalui konstruksi berita-beritanya. Perlu memahami kaidah jurnalistik sebelum kita menjadi pembaca dan menjadi sumber berita.

 


Blog EntryMateri Tentang HumasApr 12, '08 4:02 AM
for everyone

Mohon maaf, mulai hari ini materi tentang Humas atau PR hanya bisa diambil di http://upt.elmu.umm.ac.id. Bila berminat, segera minta password untuk masuk ke semua materi saya.

Saat ini melalui situs ini, saya mengundang teman-teman untuk memberi komentar dan saran tentang materi Kajian Public Relations. Materi bisa di buka di blog atau melalui tags: kuliah pr. Terimakasih.

Attachment: Humas di Organisasi Sosial.htm

Blog EntryKAJIAN PUBLIC RELATIONSMar 26, '08 4:23 AM
for everyone

Pendahuluan

 

Berdasar pengalaman penulis selama menjadi dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi dan membimbing penelitian mahasiswa Jurusan ilmu Komunikasi, fakta kerancuan fokus kajian humas sering penulis jumpai. Tidak jarang mahasiswa Public Relations mengkaji promosi justeru bukan dari perspektif Humas melainkan dari perspektif Pemasaran yang alih-alih mereka dalami selama studi. Begitu pula mahasiswa Public Relations mengkaji persepsi dan sikap, terjebak kedalam perspektif psikologi, dan seterusnya.

 

Bahasan ini ingin memberikan gambaran kepada mahasiswa khususnya tentang topik kajian yang berperspektif Humas. Bahan ini dimaksudkan sebagai stimulir -- penulis memaparkan ide-ide yang sangat mungkin untuk dikembangkan dan tentu saja di diskusikan.

 

   

IDENTITAS, CITRA, DAN REPUTASI

 

Kajian Humas pada dasarnya berkaitan dengan identitas, citra, dan reputasi objek. Baik objek tersebut sebuah produk, perusahaan/organisasi, maupun individu manusia dengan segala variabel dan atributnya.

 

Identitas adalah sesuatu yang melekat dan dapat dilihat secara kasat mata. Analogi sebuah identitas adalah sensasi, sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Identitas sebuah objek dapat dilihat dari bentuknya, teksturnya, rasanya, warnanya, sosoknya, kemasannya, font-nya, wajahnya, cirinya, logonya, dsb. Bangunan dengan bentuk jendela kotak-kotak warna putih dan sebagian dinding warna merah kita kenal sebagai identitas Bank Niaga. Gedung warna orange sudah sejak lama dikenal sebagai identitas Kantor Pos. Masyarakat telah akrab dengan simbol Kuda Laut sebagai identitas Pertamina, sehingga untuk mengganti sebuah logo saja Pertamina rela merogoh duit milyaran rupiah. Identitas dari produk minuman ringan yang sedemikian banyak dijalan-jalan dapat kita bedakan berdasar bentuk botolnya, warna kemasannya, dsb. Identitas yang kuat memudahkan orang untuk mengingat, mengenali, dan memilih sebuah objek. Sensasi adalah awal dari sebuah komunikasi.

 

Citra adalah suatu penggambaran tentang objek. Biasanya lewat bahasa. Warna putih menggambarkan ketulusan, kesucian, bersih dan apa adanya. Objek yang memilih warna putih sebagai atribut kadangkala tidak hanya bermaksud menunjukkan identitas dirinya melainkan juga mengkomunikasikan gambaran (citra) dirinya sebagi objek yang penuh ketulusan, bersih dan apa adanya. Pemilihan kata "menyesuaikan harga" dimaksudkan sebagai pencitraan "keputusan yang penuh pertimbangan" dari pada memilih kata "menaikkan harga" karena hanya akan mencitrakan kesewenang-wenangan. Citra dapat sebagai hasil manipulasi sama halnya sebuah kata dapat digunakan untuk berbohong. Citra dengan demikian bisa bersifat sementara, hanya ketika seseorang mendengar, membaca, melihat, sebuah objek yang sedang dicitrakan.

 

Adapun akhir cita-cita luhur dari seluruh upaya humas seorang individu, sebuah perusahaan/organisasi adalah reputasi, yaitu suatu konsistensi antara identitas, citra, dan perilaku individu atau perusahaan. Meskipun warna putih adalah identitas yang mudah dikenali dan mencitrakan ketulusan, kesucian, dan apa adanya, namun apabila perilaku individu atau perusahaan yang menggunakan warna putih tersebut penuh dengan kebohongan dan tingkah laku tidak etis, maka masyarakat akan memberi julukan sebagai individu atau perusahaan yang ber reputasi buruk. Reputasi lebih berpengaruh bagi orang-orang sehingga reputasi merupakan hal penting dari semua harapan orang.

 

Sudah sejak dekade 80-an, Humas menyibukkan diri dengan paradigma CITRA. Demi citra Humas mempraktekan manipulasi atas fakta. Era manipulatif di Amerika dalam sejarah praktek humas oleh para selebriti industri bisnis dan para politikus, telah membuat para "penjaga" profesi humas geram akan masa depan profesi ini. Lalu munculah era public information dimana praktek humas lebih pada penyebaran informasi yang positif, yang baik-baik saja tentang individu atau perusahaan. Sehingga praktisi humas lebih banyak dibebani sebagai penjaga pintu bagi keluarnya berita baik dan penjaga brankas bagi tersimpannya berita buruk. Era masyarakat komunikatif dan informatif membuat para pakar dan pelaku humas sibuk meyakinkan bahwa usaha-usaha untuk mencapai mutual understanding lebih penting daripada melaporkan hal yang baik-baik saja pada publik.

 

Periode CITRA tersebut pada akhirnya sudah dianggap usang. Cita-cita untuk mencapai mutual understanding antara perusahaan dan publik ternyata tidak cukup hanya dengan menampilkan citra. Publik yang semakin cerdas dan kritis, akses interaksi yang semakin mudah sejalan dengan kemudahan transportasi, komunikasi yang penuh dengan teknologi "pengintai" sehingga tidak ada sesuatupun yang lepas untuk ditelanjangi, membuat bidang humas harus akomodatif. Humas tidak lagi disibukkan dengan urusan penampilan citra melalui bahasa, melainkan harus dilibatkan dalam membangun dan mempertahankan reputasi sebuah perusahaan melalui perilaku yang konsisten dengan citra dan identitasnya.

 

James Grunig menyampaikan gagasan paradigma Koalisi Dominan, dimana Praktisi Humas harus duduk sejajar dengan para pengambil keputusan di sebuah perusahaan. Bidang humas harus dianggap sama penting dengan bidang manajemen yang lain. Gagasan koalisi dominan Grunig membuat kita berpikir, bahwa bidang humas bukanlah sekedar bidang praktis melainkan juga strategis, praktisi humas bukanlah hanya seorang teknisi komunikasi melainkan juga seorang manajerial dan communication expert preciber. Tanpa adanya akses masik menjadi bagian dari Koalisi Dominan, Humas tidak layak dibebani dengan tugas membangun dan mempertahankan reputasi.

 

Penelitian-penelitian yang berspektif humas dapat mengambil tahapan dalam sejarah dan perkembangan praktek humas di atas. Sebagai sebuah bagian integral dari manajemen perusahaan, humas dapat berkolaborasi dengan bidang-bidang yang lainnya.

 

HUMAS DAN KOMUNIKASI

 

Identitas, Citra, dan Reputasi yang menjadi fokus kajian humas mestinya ada yang mempertautkan dengan induk ilmunya. Seperti kata bernays bahwa Humas adalah Ilmu Sosial, maka setiap ilmu sosial dapat saja memasukkan kajian humas kedalam ilmunya. Namun peneliti memandang Humas sungguh dapat dijelaskan dengan mudah apabila dia kita kaji dari sudut pandang Ilmu Komunikasi.

 

Sebagai sebuah Ilmu, Ilmu Komunikasi memiliki objek manusia khususnya perilaku manusia, yaitu perilaku didalam menyampaikan dan menerima pesan-pesan melalui lambang tertentu yang dimaknai bersama (common sense). Formula Laswell menjelaskan secara sederhana, Komunikasi adalah Who (pengirim) says What (pesan) to Whom (penerima) in which channel (media) and with what effect (tujuan).  Sementara Shannon & weaver melengkapi elemen komunikasi Laswell dengan munculnya unsur distorsi (pengurangan & penambahan), feed back (umpan balik), noise (gangguan), dan environment (konteks). Berpedoman pada pengertian yang simple namun mendasar tersebut, kajian Humas yang meliputi Identitas, citra, dan reputasi dapat dijelaskan dalam perspektif komunikasi tersebut.

 

Pertama, Identitas. Keputusan sebuah perusahaan untuk memiliki identitas, tentu saja sebagai suatu upaya komunikasi. Identitas adalah suatu pesan, identitas adalah suatu media. Sebagai sebuah pesan (what) identitas corporate ingin menyampaikan tentang "diri pribadi" atau curicula perusahaan. Atribut identitas misalnya nama, logo, warna, motto, memudahkan sebuah perusahaan dalam memperkenalkan diri kepada masyarakat. Salah satu formula komunikasi yang sangat populer adalah Formula AIDDA (Attention, Interest, Desire, deccision, Action), nah melalui sebuah identitas suatu perusahaan ingin menarik perhatian publik (attention).  Bahkan identitas dapat juga menimbulkan tahap berikut yaitu ketertarikan (interest) publik pada sbuah perusahaan/objek.

 

Kedua, citra. Citra merupakan gambaran perusahaan/objek yang diperoleh melalui persepsi (kesimpulan dan penafsiran) orang lain (= baca, publik)terhadap pesan-pesan yang disampaikan oleh perusahaan/objek. Disinilah kajian komunikasi kembali relevan dihubungkan dengan citra, yakni suatu usaha mengkonstruksi pesan untuk disebar luaskan kepada khalayak sehingga hasil dari konstruksi pesan tersebut dapat dipersepsikan oleh khalayak sesuai dengan harapan pengonstruksi pesan. Konstruksi sebuah pesan melalui simbol-simbol verbal menjadi perhatian tersendiri dalam kajian humas. Bahkan mungkin ini merupakan periode terpanjang dalam paradigma kerja humas. Para praktisi humas selalu diberi beban yang lebih dalam upaya mengkonstruksi pesan-pesan perusahaan melalui media publisitas. Keahlian menulis, memilih kata, diksi, metafora, dan kalimat-kalimat tertentu yang sering ditugaskan kepada para praktisi humas kadangkala menjebak para praktisi untuk menggunakan bahasa sebagai 'pemanis', retoris, euphisme bahasa. Semua dilakukan demi sebuah citra atau image.

 

Terakhir, reputasi. Apabila identitas dan citra masih bermain dalam simbol-simbol verbal, maka reputasi tidak saja mementingkan bahasa verbal sebagai simbol komunikasi, melainkan juga mementingkan sebuah bahasa non verbal, yakni suatu perilaku atau tindakan organisasi sebagai simbol komunikasi.

 

Identitas, Citra, dan Reputasi dengan demikian dapat dipahami sebagai suatu hasil adanya proses komunikasi, yakni usaha penyampaian pesan-pesan verbal maupun non verbal seseorang atau sebuah perusahaan kepada publiknya, melalui saluran tertentu dengan tujuan tertentu. Bukankkah pemahaman tersebut dapat kita katakan sangat significant sebagai kajian komunikasi?.

 

Adapun sebagai suatu proses penyampaian pesan yang kompleks tersebut berbagai bidang ilmu turut memberikan sumbangan metode. Psikologi memberi keluasan bahasan tentang manusia sebagai penerima pesan. Karakteristik manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat-sifat individu yang unik akan mempengaruhi penyebaran dan penerimaan pesan secara unik pula oleh tiap individu manusia. Sosiology memberi keluasan pandangan akan hubungan dan pengaruh struktur masyarakat dan kelompok yang amat penting kaitannya dengan penyebaran dan penerimaan pesan-pesan. Politik memberikan sumbangan kajian hubungan power atau kekuasaan sebagai variabel yang tidak dapat diabaikan dalam kaitannya dengan penyebaran dan penerimaan pesan. Ekonomi dan manajemen menganalisis dari sisi efisiensi dan efectivity dalam mencapai tujuan komunikasi, dan tidak lupa studi budaya akan memberikan ketajaman analisis akan dampak pesan dan organisasi pemroduksi pesan terhadap kehidupan masyarakat yang termarjinalkan.

 

HUMAS DAN HUBUNGAN (Relationships)

Kajian tentang "hubungan" tidak banyak dibahas dalam buku dan pembicaraan kehumasan. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Selama ini fokus pembicaraan masih seputar citra, identitas, dan komunikasi.

 

Memahami 'hubungan' dapat melalui analogi 'hubungan' dalam komunikasi antar manusia, dimana hakekat dari komunikasi adalah makna isi dan makna hubungan. Artinya setiap tindakan komunikasi hakekatnya mengirimkan  suatu isi dan hubungan yang terbentuk diantara pengirim dan penerima pesan. Makna isi dapat dilihat dari makna simbol secara konotatif maupun denotatif, sementara hubungan dapat dilihat dari keluasan dan  kedalaman pesan yang dikomunikasikan serta cara mengkomunikasikan pesan. 

 

Keluasan dan kedalaman pesan akan menunjukkan apakah hubungan yang terjadi antara pengirim dan penerima pesan adalah hubungan yang biasa, erat/dekat,  ataukah reggang. Semakin dalam dan luas pesan yang dapat dipertukarkan, maka semakin dekat/erat suatu hubungan. Sedangkan cara menyampaikan pesan menunjukkan apakah hubungan yang terjadi adalah hubungan yang simetris ataukah asimetris.

 

Hubungan yang erat tercermin dari banyaknya topik pesan yang dapat dipertukarkan, dan kedalaman pembahasan pesan yang dipertukarkan tersebut. Sedangkan hubungan yang simetris tercermin dari pesan-pesan yang 'nyambung', saling mendukung, dan kesan adanya persamaan posisi sebagai pengirim dan penerima pesan.

 

Hubungan masyarakat pada akhirnya dapat dipraktekkan dengan pilihan-pilihan keeratan hubungan dan posisi hubungan tersebut. Tentu saja ada pasangan alternatif, tetapi yang ideal adalah hubungan simetris yang erat antara publik dan organisasi. Sementara yang paling tidak ideal adalah hubungan yang 'biasa' dan asimetris.


Blog EntryMEMBUAT PERATURAN MENONTON TELEVISI DENGAN ANAKMar 14, '08 9:41 PM
for everyone

Televisi telah menjadi media yang sangat penting bagi masyarakat saat ini. Anda tidak perlu melek huruf untuk bisa mengkonsumsi tayangan televisi. Hampir semua orang suka menikmati tayangan televisi. Karakteristik tayangan televisi yang ’hidup’ secara audio visual merupakan hiburan yang murah meriah dan asyik. Sayang sekali, sifat televisi pula yang membuat ’serbuan’ tayangan televisi menerpa segala usia, walau tayangan televisi ternyata tidak selalu ditujukan untuk segala usia.

 

Masalahnya, tidak semua tayangan televisi sehat dan baik bagi kita dan terutama bagi anak-anak. Liberalisasi tayangan televisi mempertontonkan nilai-nilai yang tidak sehat seperti adegan kekerasan, moral menyimpang, sensualitas, irasional, banyak mewarnai tayangan televisi. Tidak hanya pada tayangan orang dewasa. Tayangan TV untuk anak-anak juga banyak menyajikan nilai-nilai tidak sehat tersebut.

 

Saya sendiri sangat resah dengan tayangan-tayangan televisi saat ini dan mulai khawatir dengan ketergantungan anak saya pada televisi tsb. Hingga suatu saat saya putuskan akan menangani persoalan ini di keluarga saya dengan lebih serius. Momennya sangat tepat. Waktu itu hari minggu, 13 Januari 2008, saya baru mendapat pencerahan tentang bahaya media massa, khususnya televisi  bagi anak-anak. Pulang ke rumah, hati saya sudah kemrungsung ingin membagi pengalaman dengan anak saya.

 

Saya ceritakan padanya bahwa tidak semua tayangan televisi untuk anak-anak itu baik ditonton. Ada yang bahaya bila ditonton karena bisa merusak otak/pikiran. Program tayangan untuk anak-anak ada yang bahaya, bagus, dan ada yang harus didiskusikan lebih lanjut isinya. Anak saya mulai antusias bertanya judul-judul program yang masuk katagori bahaya, bagus, dan perlu didiskusikan itu.

 

Tapi saya belum punya cara, bagaimana mengajak dia mengurangi ketergantungan pada televisi?. Eh, Alhamdulillah habis sholat magrib, dia sedang belajar PKn tentang PERATURAN. Kata dia membaca catatannya, peraturan adalah pernyataan tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Langsung deh saya nimbrung, ”Kita juga bisa lho dek membuat peraturan, mau gak?”.

 

Anak saya ternyata menyambut baik ajakan saya. Kami segera mengambil kertas dan pena. Saya ajak dia membuat peraturan untuk diri sendiri. Dia minta saya berikan contoh terlebih dahulu. Maka saya nyatakan aturan antara lain sbb:

  1. Mama tidak boleh menonton televisi pada jam 18.00-19.00 WIB (sengaja pilih yang prime time he..he..
  2. Mama boleh menonton televisi maksimal 2 judul per hari.

 

Lalu anak saya gantian membuat peraturan untuk dirinya sendiri (yang tentu saja anak akan cenderung menduplikasi apa yang kita contohkan) sbb:

1. Adik tidak boleh main PS pada hari senin-jum’at.

2. Adik boleh menonton televisi maksimal 3 judul per hari.

 

Nah, sampai sekarang kami masih memberlakukan peraturan tersebut. Walau kadang sedih juga tidak bisa menonton Suami-suami Takut Istri yang cukup menghibur itu. Tapi demi perlawanan saya pada dunia industri televisi kita saat ini, perasaan sedih itu harus saya alihkan, dan juga demi tauladan pada anak-anak. Bahkan saya pasang jadwal dan judul tayangan anak-anak yang masuk katagori bahaya, bagus, dan perlu diskusi di sebelah pesawat televisi. Untuk membantu anak memilih sendiri program yang bisa ditontonnya manakala saya tidak ada di rumah.

 


Blog EntrySalah Kaprah Hadapi Sakit KepalaMar 14, '08 5:00 AM
for everyone

Tulisan ini bermula dari rasa keprihatinan saya setelah membaca opini Suara Konsumen tentang produk obat sakit kepala. Beberapa opini atau tulisan mengindikasikan pada rekomendasi yang kurang baik, yaitu untuk mengonsumsi obat sakit kepala yang berdasarkan pengalaman para penulisnya cocok, bahkan dapat penilaian yang sangat baik.

 

Mengonsumsi obat sakit kepala memerlukan keputusan yang tepat. Kebiasaan masyarakat kita adalah  tidak sabar apabila sedang menderita sakit dan maunya ingin cepat disembuhkan dengan obat-obatan. Suami saya contohnya. Tiap sakit kepala, selalu bingung minta obat. Ketika baru menikah dulu, saya selalu siapkan obat sakit kepala di rumah. api lama kelamaan saya tidak pernah lagi mau menyediakannya karena saya amati membuatnya sangat tergantung dan semakin tidak bisa sabar menghadapi rasa sakit. Akhirnya, suami saya menjadi tidak pernah keluar dari lingkaran derita saat sakit kepala.  Saya telah berusaha memberinya solusi tentang hal ini, tapi sampai sekarang belum juga berhasil secara memuaskan. Padahal saya sudah terapkan solusi ini pada diri saya sendiri sejak 15 tahun terakhir.

 

Berikut ini saya sampaikan logika saya dalam memandang obat sakit kepala dan sakit kepala itu sendiri.

 

Obat sakit kepala  terutama yang dijual bebas di pasaran, harus dipahami bukanlah obat yang MENYEMBUHKAN PENYAKIT, tetapi HANYA MEREDAKAN RASA SAKIT. Coba perhatikan di setiap kemasan tentang info produk, pernahkan kita menemukan kata-kata bahwa obat ini dapat MENYEMBUHKAN SAKIT KEPALA?. Etika komunikasi produk obat juga tidak memperbolehkan produsen mengatakan sebuah obat dapat MENYEMBUHKAN, melainkan hanya MEREDAKAN. Maka apabila ada info produk dan juga iklan obat mengetakan obatnya DAPAT MENYEMBUHKAN penyakit...kita bisa mengadukannya ke dewan etika.

 

Perhatikan kata MEREDAKAN RASA SAKIT.  Meredakan bisa diartikan hanya mengurangi yang itu berarti bisa pula bersifat sementara. Oleh karena itu wajib bagi produsen obat menambahkan info Bila sakit berlanjut, hubungi dokter. Kata Rasa sakit[ juga memberi pesan bahwasannya sakit bisa berarti hanyalah RASA alias perasaan, bukan selalu suatu FAKTA. Kita tahu bahwa ambang rasa sakit tiap-tiap orang itu berbeda, dan itu artinya menahan rasa sakit sebenarnya bisa dilatih atau dibiasakan. Hal ini bisa dilakukan dengan berlatih sabar dan pengendalian diri (wilayah perasaan).

 

Terakhir,  mari kita coba berpikir seperti seorang dokter. Inti dari suatu penyembuhan adalah menangani akar dari suatu penyakit. Bukan hanya sekedar rasa sakitnya itu sendiri. Artinya begini: bila anda sedang sakit kepala, maka belum tentu itu karena kepala anda yang berpenyakit. Percaya gak?. Mau bukti?. Pengalaman saya membuktikan, ketika saya sakit kepala saya tidak pernah memberinya obat yang katanya obat sakit kepala itu. Saya akan cari tahu..kenapa saya sakit kepala? Saya cari sumbernya, saya cari akarnya. Ternyata beberapa hal yang membuat saya merasa sakit kepala adalah lapar, kena terik matahari, terlalu banyak membaca, terlalu banyak berdebat/diskusi, dan kurang tidur!.  Jadi, apabila saya sakit kepala karena lapar..obatnya hanya makan. Bila saya sakit kepala karena kena terik matahari..itu bisa jadi saya alami dehidrasi, maka obatnya adalah minum dan beristirahat cukup (tidur), bila dikarenakan banyak membaca, berdebat/diskusi..maka saya harus segera hentukan dan cari suasana dingin,..dst..dst...

 

So, ..berlatihlah untuk mencari akar kenapa anda merasa sakit kepala jangan terburu-buru mengobati kepala anda, please. Tapi bila anda tidak bisa juga menemukan akarnya, maka datanglah ke ahlinya. Mungkin dokter lebih tepaT.

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Bernd Willenberg